JAKARTA-Fenomena meningkatnya pemain diaspora yang memilih membela Timnas Indonesia mendapat sorotan dari pengamat sepak bola asal Belanda, Tijmen van Wissing. Ia menilai keputusan tersebut tidak selalu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap karier pemain, khususnya di kompetisi Eropa.
Dalam analisanya, Van Wissing menyoroti aturan ketat di Eredivisie yang mengatur status pemain non-Uni Eropa. Menurutnya, pemain yang menggunakan paspor Indonesia akan masuk kategori tersebut dan diwajibkan memenuhi standar gaji minimum yang cukup tinggi, yakni sekitar 608.000 euro per tahun. Kondisi ini dinilai menjadi hambatan bagi klub-klub Belanda untuk merekrut mereka.
Beberapa nama pemain seperti Mees Hilgers, Dean James, hingga Tim Geypens disebut berpotensi terdampak kebijakan tersebut. Van Wissing menilai, status non-Uni Eropa dapat membuat nilai jual mereka di bursa transfer menurun, terutama bagi klub yang memiliki keterbatasan anggaran.
Ia pun mengingatkan agar para pemain diaspora lebih berhati-hati sebelum memutuskan proses naturalisasi. Menurutnya, selain aspek kebanggaan membela negara, pemain juga perlu mempertimbangkan stabilitas dan perkembangan karier mereka di level klub Eropa.
Meski demikian, di sisi lain, langkah para pemain diaspora membela Timnas Indonesia juga dinilai sebagai bentuk komitmen dan kecintaan terhadap akar budaya mereka, sekaligus memperkuat kualitas skuad Garuda di kancah internasional.
Perdebatan ini pun menjadi menarik, antara pilihan hati membela negara atau pertimbangan realistis dalam menjaga karier profesional di Eropa.
(Redaksi)