LINTANG NUSANTARA NEWS

Skandal Proyek Irigasi Pacal II: Anggaran 47 Miliar "Mangkrak, Buruh Kelaparan, Petani Terancam Gagal Panen




BOJONEGORO || LNnews.COM – Aroma kegagalan tercium menyengat dari proyek Rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Pacal Tahap II di Kabupaten Bojonegoro. Proyek raksasa bernilai Rp47,5 miliar yang digarap oleh PT JET ini kini berada di ujung tanduk. Alih-alih membawa kesejahteraan, proyek di bawah naungan BBWS Bengawan Solo ini justru meninggalkan jejak kehancuran manajemen dan penderitaan sosial.


  Progres  Siput di Tengah Anggaran Fantastis

Meski menjadi bagian dari total anggaran jumbo sebesar Rp103 miliar, performa PT JET di lapangan dinilai sangat memalukan. Berdasarkan data yang dihimpun, proyek yang seharusnya sudah diresmikan pada akhir 2025 ini justru jalan di tempat.

 Per April 2026, progres pekerjaan bahkan belum menyentuh angka 90 persen.


  Ketidakmampuan kontraktor dalam menyelesaikan perbaikan saluran sepanjang 4,9 kilometer ini memicu tanda tanya besar terkait kredibilitas perusahaan pemenang tender tersebut. Metode lining precast yang digembar-gemborkan akan mempercepat pekerjaan justru tampak semrawut dan terbengkalai.


    Amburadul dan Zalim.Upah Pekerja Menunggak, Warung Warga Tercekik

Kondisi di lapangan tidak hanya sekadar masalah teknis beton dan semen, melainkan sudah menyentuh krisis kemanusiaan. K, salah satu warga setempat, meluapkan kemarahannya kepada tim media dengan nada getir.

  

Pekerjaannya amburadul mas! Tidak hanya molor, tapi ini sudah keterlaluan. Hak para pekerja, sopir alat berat (ekskavator), sampai tenaga kasar banyak yang belum dibayar. Kasihan mereka, sampai berhutang di warung-warung warga untuk makan sehari-hari. Pemilik warung pun ikut menjerit karena tunggakan yang tak kunjung dilunasi pihak proyek,ungkap K dengan nada tinggi.

  

Fakta bahwa perusahaan pemegang proyek miliaran rupiah gagal memenuhi kewajiban dasar seperti upah pekerja dan biaya operasional harian menunjukkan adanya indikasi ketidaksehatan finansial atau manajemen yang sangat bobrok.

  

Ancaman Ketahanan Pangan: 2.800 Hektar Lahan Jadi Taruhan

Keterlambatan ini bukan sekadar urusan administratif. Sebanyak 2.896,5 hektar lahan pertanian yang menggantungkan hidup pada aliran Bendungan Pacal dan Gongseng kini terancam kekeringan. Harapan petani untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) sirna berganti kecemasan akan gagal panen masal.

  

Distribusi air yang terhambat akibat sedimen yang belum dikeruk dan lining yang masih menganga merusak siklus tanam di wilayah hilir Bengawan Solo. Jika proyek ini terus dibiarkan (sekarat), produktivitas pangan Bojonegoro dipastikan akan merosot tajam tahun ini.

  

Bungkamnya Pihak Bertanggung Jawab

Hingga berita ini meledak ke publik, pihak PT JET maupun pejabat terkait dari BBWS Bengawan Solo memilih jurus "seribu bahasa". Tidak adanya klarifikasi resmi semakin memperkuat dugaan adanya ketidaksanggupan kontraktor dalam menyelesaikan komitmen kontrak.

  

 Publik kini mendesak aparat penegak hukum dan instansi pengawas untuk segera turun tangan memeriksa penggunaan anggaran puluhan miliar tersebut. Rakyat Bojonegoro tidak butuh janji di atas kertas, mereka butuh air mengalir dan hak-hak pekerja yang terbayar lunas.

RED//LNN

Lebih baru Lebih lama