Breaking News
NavoraNews.com - Media Informasi Digital Terpercaya | Cepat, Akurat, Berimbang | Update berita nasional, internasional, ekonomi, hukum, TNI dan Polri setiap hari

DBH SDA Bojonegoro Baru Cair Rp377,16 Miliar, Masih Jauh dari Target Rp952 Miliar

BOJONEGORO | LintangNusantaranews– Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mencatat realisasi penerimaan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) hingga penyaluran Tahap III Tahun 2026 mencapai Rp377,16 miliar. Meski nominal tersebut cukup besar, angka itu masih berada di bawah separuh dari total target penerimaan DBH SDA tahun ini yang mencapai sekitar Rp952 miliar.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro, Yusnita Liasari, mengatakan dana yang telah masuk ke kas daerah berasal dari sektor migas maupun nonmigas.

Rincian penerimaan tersebut didominasi oleh DBH Minyak Bumi sebesar Rp367,860 miliar, disusul DBH Gas Bumi Rp8,551 miliar, DBH Pengusahaan Panas Bumi Rp9,213 juta, DBH Mineral dan Batu Bara (Royalti) Rp399,79 juta, DBH Kehutanan-PSDH Rp247,53 juta, serta DBH Perikanan Rp100,96 juta.

Sementara itu, target penerimaan DBH SDA Kabupaten Bojonegoro sepanjang 2026 dipatok sebesar Rp935,665 miliar dari sektor minyak bumi, Rp5,363 miliar gas bumi, Rp9,213 miliar panas bumi, Rp999,49 juta royalti mineral dan batu bara, Rp618,83 juta PSDH kehutanan, serta Rp252,40 juta dari sektor perikanan.

Jika dibandingkan dengan target tersebut, realisasi hingga Tahap III masih menyisakan pekerjaan rumah yang cukup besar. Penyaluran berikutnya akan sangat menentukan kemampuan daerah dalam memenuhi target penerimaan yang telah ditetapkan pemerintah pusat.

Yusnita menegaskan, Bapenda akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar penyaluran DBH SDA pada tahap selanjutnya dapat berlangsung sesuai jadwal. Dana transfer tersebut dinilai memiliki peran strategis untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, dan berbagai program prioritas di Kabupaten Bojonegoro.

Realisasi DBH SDA menjadi salah satu sumber pendapatan daerah yang sangat bergantung pada kebijakan pemerintah pusat serta perkembangan sektor sumber daya alam, khususnya minyak dan gas yang selama ini menjadi penopang utama pendapatan Bojonegoro.

(Redaksi )
Lebih baru Lebih lama