BOJONEGORO//LNN – Tradisi sedekah bumi yang digelar oleh masyarakat di tepi kawasan Hutan Clebung pada Minggu (10/5/2026) berlangsung dengan khidmat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud rasa syukur atas hasil bumi, tetapi juga momen doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan warga sekitar hutan.
Acara yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, petani hutan, dan warga setempat ini turut menghadirkan Lulus Setiawan, Ketua Budaya Kusuma Nusantara sekaligus Koordinator Rejo Semut Ireng. Kehadirannya menarik perhatian karena ia dikenal aktif mengawal isu sosial dan kehutanan bagi masyarakat yang tinggal di tepian hutan.
Lulus Setiawan memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat gotong royong masyarakat yang masih konsisten menjaga tradisi leluhur di tengah arus modernisasi. Menurutnya, sedekah bumi bukan sekadar ritual budaya, melainkan simbol harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
“Tradisi seperti ini jangan sampai hilang. Sedekah bumi adalah pengingat bahwa masyarakat hidup berdampingan dengan alam dan harus menjaga keseimbangan kehidupan bersama,” ujarnya.
Di balik suasana kebersamaan tersebut, Lulus menyuarakan keprihatinan serius terhadap kondisi petani di kawasan hutan, khususnya terkait akses terhadap pupuk. Ia menyoroti bahwa banyak petani di area tersebut belum memiliki Surat Keputusan (SK) definitif atas lahan garapan mereka, sehingga menyulitkan akses terhadap pupuk bersubsidi.
Sebagai penggiat kehutanan sosial dan praktisi hukum, Lulus menilai pemerintah perlu segera memberikan solusi agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat kecil. Ia menegaskan bahwa petani kawasan hutan hanya ingin bertani dengan tenang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Namun, kesulitan mengakses pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk non-subsidi menjadi beban berat yang berpotensi memicu masalah hukum dan sosial.
“Jangan sampai masyarakat yang benar-benar membutuhkan pupuk justru berada pada posisi rentan terhadap persoalan hukum akibat keterbatasan akses dan belum adanya regulasi yang jelas,” tegasnya.
Lulus menekankan bahwa negara harus hadir melalui solusi nyata, bukan hanya aturan. Ia mendesak pemerintah untuk segera merumuskan regulasi atau skema bantuan pupuk khusus bagi petani kawasan hutan yang belum memiliki SK definitif. Hal ini bertujuan agar mereka dapat terus bertani secara aman dan berkelanjutan.
Ia juga menyoroti ketidakseimbangan ekonomi yang dihadapi petani. Harga pupuk non-subsidi yang sangat tinggi tidak sebanding dengan harga hasil pertanian yang cenderung rendah. Kondisi ini, menurutnya, memerlukan kebijakan yang bijaksana dan pendekatan yang lebih mengedepankan pembinaan serta perlindungan, bukan sekadar penekanan aturan tanpa jalan keluar.
“Kondisi inilah yang harus dipahami bersama dengan hati nurani dan kebijakan yang bijaksana,” katanya.
Kegiatan sedekah bumi tersebut berakhir dengan hangat, ditandai dengan doa bersama, tumpengan, dan keakraban warga yang memenuhi kawasan tepi Hutan Clebung hingga acara selesai.
(Penulis: Alisugiono)
Edt:LNN