BOJONEGORO ||LNN– Suara tetabuhan gamelan yang ritmis berpadu dengan nyanyian merdu Waranggana memecah keheningan Desa Kawengan. Pada Kamis (23/4/2026), desa ini berubah menjadi panggung budaya yang megah dalam rangka perayaan Sedekah Bumi, sebuah ritual tahunan sebagai manifestasi rasa syukur warga atas melimpahnya hasil bumi dan keselamatan yang diberikan oleh Sang Pencipta.
Perayaan tahun ini berlangsung jauh lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ribuan warga, mulai dari anak-anak hingga lansia, tumpah ruah di area balai desa dan titik-titik sakral desa untuk mengikuti prosesi yang dianggap sebagai warisan leluhur yang tak ternilai harganya.
Seni Tayub: Spirit Kedekatan dan Kebersamaan.
Daya tarik utama dalam perayaan ini adalah pertunjukan Seni Tayub. Bukan sekadar hiburan, Tayub di Desa Kawengan memiliki makna filosofis sebagai simbol keharmonisan sosial dan kesuburan tanah. Para penari dengan gemulai mengajak tokoh masyarakat dan warga untuk menari bersama, menciptakan ikatan kekeluargaan yang erat.
Seni Tayub ini adalah bagian tak terpisahkan dari jiwa masyarakat kami. Ini adalah ekspresi kegembiraan sekaligus doa agar hasil panen di musim mendatang tetap melimpah,ujar salah satu sesepuh desa di sela-sela acara.
Dalam acara Rebutan Gunungan adalah Simbol Keberkahan yang Dinanti.
Puncak acara ditandai dengan arak-arakan Gunungan—susunan hasil bumi yang menjulang tinggi, mulai dari padi, palawija, buah-buahan, hingga aneka jajanan pasar. Gunungan ini merepresentasikan kekayaan alam Desa Kawengan yang selama ini menghidupi warganya.
Begitu doa syukur selesai dipanjatkan, suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh semangat saat warga mulai merangsek maju untuk "ngalap berkah" atau memperebutkan isi gunungan.
Bagi warga, mendapatkan bagian dari gunungan tersebut bukan sekadar soal nilai barangnya, melainkan simbol keberkahan yang diyakini akan membawa kebaikan bagi keluarga mereka.
Alhamdulillah, meski harus berdesakan, saya berhasil dapat sayur dan buah. Ini akan saya bawa pulang, semoga jadi berkah untuk rumah tangga, ungkap salah seorang warga dengan raut wajah sumringah.
Melestarikan Kearifan Lokal di Era Modern
Kepala Desa Kawengan menegaskan bahwa tradisi Sedekah Bumi ini akan terus dipertahankan sebagai benteng budaya. Di tengah arus modernisasi, kegiatan ini terbukti mampu menyatukan warga dan memperkuat gotong royong.
Sedekah Bumi bukan hanya soal ritual, tapi juga tentang identitas. Kita ingin generasi muda tahu bahwa tanah ini memberikan kehidupan, dan kita harus menghormatinya melalui tradisi seperti ini,tegasnya.
Acara yang berlangsung hingga sore hari ini ditutup dengan ramah tamah antar warga. Kemeriahan di Desa Kawengan hari ini menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan zaman, akar budaya dan rasa syukur kepada bumi pertiwi tetap tumbuh subur di hati masyarakat.
Red: LNN