Mahasiswa KKN 42 Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro menggali kearifan lokal masyarakat Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, melalui penelusuran sejarah penamaan desa yang diwariskan secara turun-temurun. Upaya tersebut dilakukan dengan mengunjungi petilasan di RT 11 Dusun Ngampel pada Jumat (8/8), yang diyakini masyarakat menyimpan jejak sejarah lahirnya Desa Turi.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa didampingi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Turi, Ghariman. Melalui penelusuran sejarah lokal itu, mahasiswa diajak memahami nilai-nilai budaya, tradisi, serta cerita yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Turi hingga saat ini.
Menurut Ghariman, petilasan tersebut diyakini sebagai tempat singgah dan semedi Mbah Joko Umboro, menantu Kiai Tariman. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, tokoh tersebut melakukan perjalanan spiritual dari wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Bacem, kemudian menuju Dusun Sukosewu, Dusun Belah, Dusun Balong, hingga akhirnya tiba di Dusun Ngampel.
Dalam perjalanan itu, Mbah Joko Umboro dikisahkan hendak mengambil wudu untuk menunaikan salat. Namun karena tidak menemukan sumber air, beliau terus mencari hingga menemukan sebuah sumur di kawasan ledokan yang kini dikenal sebagai Bacem Ledok.
Perjalanan tersebut kemudian berakhir di wilayah yang saat ini menjadi Dusun Ngampel. Di tempat itu, Mbah Joko Umboro melakukan tapa atau semedi selama beberapa bulan. Lokasi tersebut dipercaya berada di sekitar kawasan yang kini dikenal warga sebagai Watu Gunung.
Ghariman menuturkan, pada masa itu kehidupan warga sekitar kerap diwarnai perselisihan. Melihat kondisi tersebut, Mbah Joko Umboro mulai memberikan pitutur atau nasihat kepada masyarakat, terutama selepas Magrib dan Isya di bawah sebuah pohon turi.
“Dahulu masyarakat sekitar sini suka berantem, akhirnya dituturi atau diberi pitutur oleh beliau,” ujar Ghariman.
Lambat laun, warga mulai menerima dan mengikuti nasihat yang disampaikan sehingga kehidupan sosial menjadi lebih rukun dan harmonis. Cerita tentang pitutur tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sejarah Desa Turi.
Di sekitar lokasi tempat Mbah Joko Umboro memberikan nasihat dan melakukan semedi, dahulu tumbuh banyak pohon turi. Keberadaan pohon-pohon tersebut kemudian diyakini menjadi asal-usul penamaan Desa Turi yang digunakan hingga sekarang.
Selain menyimpan cerita tentang asal-usul desa, kawasan itu juga diyakini menjadi awal mula penamaan Dusun Ngampel. Menurut Ghariman, saat pertama kali datang, warga sempat menaruh curiga terhadap sosok Mbah Joko Umboro karena belum mengenalnya. Namun penampilannya yang mengenakan jubah putih khas ulama membuat warga menduga bahwa beliau merupakan murid Sunan Ampel atau memiliki keterkaitan dengan ajaran Sunan Ampel. Dari cerita itulah kemudian muncul penyebutan Ngampel yang terus digunakan hingga kini.
Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan di sekitar petilasan. Salah satunya berupa pohon wungu yang kini dipagari sebagai penanda lokasi semedi. Selain itu terdapat pula Kedung Gupit yang dipercaya warga sebagai bekas tempat sujud saat melaksanakan salat.
Masyarakat setempat juga meyakini malam Jumat Kliwon pada bulan Muharam tahun 1836 sebagai momentum lahirnya Desa Turi. Untuk mengenang sejarah tersebut, warga secara rutin menggelar tradisi manganan yang melibatkan masyarakat RT 8, RT 9, RT 10, dan RT 11 Dusun Ngampel, perangkat desa, serta tokoh masyarakat setempat.
Tradisi manganan sempat vakum selama beberapa tahun sebelum kembali dihidupkan sekitar tahun 2023 atas prakarsa ibu-ibu jamaah tahlil dan warga sekitar petilasan. Awalnya kegiatan tersebut hanya diikuti puluhan orang, namun dari tahun ke tahun jumlah peserta terus bertambah.
Pada 2024, empat ketua RT di Dusun Ngampel menggelar musyawarah bersama untuk mengembangkan kegiatan tersebut. Hasilnya, tradisi manganan dikemas lebih meriah dengan menghadirkan pagelaran Wayang Thengul, salah satu kesenian khas Bojonegoro.
Upaya pelestarian situs sejarah itu terus berlanjut. Pada 2025, warga bersama Ghariman menggagas pembangunan sebuah joglo di kawasan petilasan sebagai sarana kegiatan budaya dan kemasyarakatan. Keberadaan joglo tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena, menurut Ghariman, dari 18 desa di Kecamatan Tambakrejo hanya Desa Turi yang memiliki bangunan joglo di kawasan yang oleh masyarakat dikenal sebagai pesarean.
Meski kerap disebut pesarean, lokasi tersebut bukanlah makam. Masyarakat menggunakan istilah pesarean untuk menyebut tempat singgah atau tempat beristirahat tokoh yang diyakini pernah berada di kawasan tersebut.
“Pesarean itu sare leren, tempat istirahat. Beliau hanya singgah beberapa bulan di sini, tidak ada makamnya,” jelas Ghariman.
Ketua KKN 42 Unugiri, Nur Sholiqin, mengatakan penggalian sejarah lokal menjadi bagian penting dalam upaya memahami karakter dan identitas masyarakat desa tempat mahasiswa mengabdi.
“Melalui kunjungan ini, kami tidak hanya belajar tentang sejarah Desa Turi, tetapi juga memahami nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu, seperti kerukunan, kebersamaan, dan pentingnya menjaga tradisi. Harapannya, sejarah dan kearifan lokal yang dimiliki Desa Turi dapat terus dikenal serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.
(KLOMPOK,KKN42.UNUGIRI,TambakRejo,Turi)
Tags:
peristiwa