BOJONEGORO | LintangNusantara – Dampak penyelenggaraan Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026 mulai dirasakan para pelaku usaha batik di Kabupaten Bojonegoro. Sejak festival digelar pada Juni lalu, permintaan dan pembelian batik khas Bojonegoro mengalami peningkatan, membuka peluang baru bagi pengrajin untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat identitas batik daerah.
Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, menyebut meningkatnya minat masyarakat terhadap batik lokal menjadi indikator bahwa promosi melalui BWBF mampu memberikan hasil nyata bagi pemasaran produk UMKM berbasis budaya.
"Alhamdulillah, setelah Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026, pembelian dan permintaan batik Bojonegoro meningkat. Ini menjadi semangat bagi kita semua untuk terus mengembangkan kualitas dan daya saing batik Bojonegoro," ujarnya.
Dalam pertemuan evaluasi bersama para pengrajin, berbagai capaian pasca festival turut dibahas, mulai dari bertambahnya jaringan pemasaran, tingginya respons konsumen terhadap motif khas Bojonegoro, hingga sejumlah tantangan dalam memenuhi kebutuhan produksi akibat meningkatnya permintaan.
Tak hanya mengevaluasi hasil festival, Dekranasda bersama para pengrajin juga mulai menyusun langkah pengembangan motif-motif baru yang tetap mengangkat kekayaan budaya lokal. Masukan dari para perajin akan menjadi dasar penyusunan program pembinaan agar lebih tepat sasaran.
Cantika menegaskan bahwa kemajuan industri batik Bojonegoro tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Dekranasda, asosiasi pengrajin, serta seluruh pemangku kepentingan agar batik Bojonegoro semakin dikenal hingga tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengrajin Batik Bojonegoro (APBB), Lukdianto, berharap sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus diperkuat. Menurutnya, pengembangan motif yang memiliki karakter kuat akan menjadi identitas sekaligus nilai tambah bagi batik Bojonegoro.
Selain itu, APBB juga mengusulkan pembangunan galeri batik di lokasi strategis sebagai pusat promosi dan pemasaran produk para pengrajin. Kehadiran galeri dinilai mampu memperluas akses pasar sekaligus menjadi etalase batik khas Bojonegoro bagi wisatawan maupun pembeli dari luar daerah.
APBB juga menekankan pentingnya kebijakan pemerintah yang berkelanjutan agar pembinaan terhadap industri batik tidak berhenti meski terjadi pergantian kepemimpinan daerah. Kepastian dukungan dinilai menjadi faktor penting bagi pelaku usaha untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas produk, dan memperkuat daya saing batik Bojonegoro sebagai warisan budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif daerah.
(Redaksi)
Tags:
Daerah