LNN||BOJONEGORO – Aksi demonstrasi terkait Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Jalan Veteran, Bojonegoro, Senin (22/6/2026), dinilai kehilangan substansi dan sarat kepalsuan. Sorotan tajam publik muncul karena absennya total siswa—penerima manfaat utama—dalam unjuk rasa tersebut. Massa justru didominasi oleh relawan dan karyawan pengelola dapur yang lebih vokal menyuarakan ketakutan kehilangan penghasilan ketimbang memperjuangkan gizi anak didik.
Fakta di lapangan menunjukkan orasi-demo ini murni bermotif ekonomi pekerja, bukan urgensi kesehatan siswa. Ironisnya, tidak ada bukti signifikan bahwa siswa mengalami kekurangan gizi akibat penghentian layanan. Ketidakhadiran siswa semakin memperkuat dugaan bahwa program MBG telah bergeser fungsi,dari alat pemenuhan gizi generasi muda menjadi tameng untuk mempertahankan lapangan kerja dan aliran dana bagi pihak tertentu.
Di balik aksi jalanan, terungkap akar masalah sebenarnya, penghentian operasional dapur dipicu macetnya pembayaran insentif kepada investor dan pengelola, yang dikabarkan menunggak hingga Rp6 juta per hari. Narasi "kelaparan siswa" hanyalah kedok; realitanya, krisis yang terjadi adalah krisis cashflow penyelenggara, bukan krisis pangan peserta didik.
Publik menuntut transparansi penuh. Apakah MBG masih berpihak pada siswa, atau telah menjadi proyek bisnis terselubung.Pemerintah daerah diminta segera melakukan evaluasi menyeluruh dan memberikan klarifikasi resmi, sebelum program strategis ini kian terkikis oleh kepentingan segelintir oknum.
**bersambung**
Tags:
Daerah