JAKARTA||LNN – Ketua Umum APKLI-P, dr. Ali Mahsun ATMO, M. Biomed, menyoroti kondisi kritis yang menimpa Pedagang Kaki Lima (PKL) dan UMKM akibat lonjakan harga plastik yang mencapai 70% hingga lebih dari 100%.
Kenaikan ekstrem ini dipicu oleh ketegangan konflik global (AS-Israel vs Iran) yang mengganggu rantai pasok bahan baku plastik.
Poin Utama Krisis di Lapangan ialah
Beban Biaya Produksi,Harga gelas plastik di beberapa daerah melonjak dua kali lipat (misal: di Jambi dari Rp 20rb menjadi Rp 43rb).
Strategi untuk bertahan Demi menjaga pelanggan di tengah daya beli yang rendah, pedagang memilih tidak menaikkan harga jual, melainkan dapat
mengurangi ukuran/volume produk (seperti gorengan).
Menghemat penggunaan plastik dengan menggabungkan barang belanjaan dalam satu wadah.
Dampak Fatal yaitu Omzet pedagang tergerus dan keuntungan menipis secara signifikan.
Kritik Terhadap Ketergantungan Impor,Ali Mahsun menyayangkan Indonesia yang sudah 81 tahun merdeka namun masih 100% bergantung pada impor NAFTA (bahan baku plastik).
Meskipun penggunaan daun pisang/jati sempat viral sebagai alternatif, hal tersebut dinilai sulit menggantikan fungsi plastik secara instan bagi jutaan pedagang kecil.
3 Tuntutan APKLI-P kepada Pemerintah yaitu
Panggil Perusahaan Plastik, Pemerintah harus segera berkoordinasi dengan produsen plastik besar karena stok di sektor hulu seharusnya masih tersedia berdasarkan data impor awal tahun.
Investigasi Penimbunan, melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan tidak ada oknum yang menimbun stok plastik demi mencari keuntungan pribadi di tengah krisis.
Operasi Pasar agar segera lakukan operasi pasar khusus plastik untuk menstabilkan harga di tingkat pedagang kecil dan pasar tradisional.
Kondisi ini sudah masuk kategori darurat bagi ekonomi rakyat kecil. Pemerintah harus bertindak cepat dengan kebijakan yang nyata, bukan sekadar wacana transisi energi,tegas Ali Mahsun.
Redaksi(LNN)