Bojonegoro – Suasana Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah tahun ini terasa berbeda bagi sebagian besar masyarakat. Di tengah momen yang seharusnya penuh kebahagiaan dan kemenangan, banyak warga justru merasakan keprihatinan akibat kondisi perekonomian yang belum membaik.
Sejumlah warga mengaku daya beli menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, serta pendapatan yang tidak stabil membuat persiapan Lebaran dilakukan secara lebih sederhana. Tradisi membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan istimewa, hingga berbagi THR kini harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Biasanya menjelang Lebaran ramai belanja, sekarang lebih banyak yang menahan diri. Yang penting bisa makan dan kumpul keluarga,” ujar salah satu warga.
Kondisi ini juga dirasakan para pelaku usaha kecil dan pedagang. Penjualan yang biasanya meningkat tajam menjelang Lebaran, tahun ini justru cenderung stagnan. Bahkan, beberapa pedagang mengaku mengalami penurunan omzet cukup signifikan.
Di sisi lain, masyarakat tetap berupaya menjaga makna Idul Fitri sebagai momentum mempererat silaturahmi dan meningkatkan kepedulian sosial. Meski dalam keterbatasan, semangat berbagi tetap terlihat melalui kegiatan sederhana seperti saling mengunjungi keluarga dan membantu sesama.
Pengamat ekonomi menilai situasi ini menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi belum merata. Diperlukan langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya menjelang momen besar seperti Lebaran.
Lebaran tahun ini pun menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan. Dalam kesederhanaan dan keterbatasan, nilai kebersamaan dan kepedulian justru semakin terasa kuat di tengah masyarakat.
REDAKSI:LNN