Jakarta – Krisis energi yang melanda India akibat dampak konflik global menjadi peringatan serius bagi Indonesia. Kekosongan gas LPG yang terjadi di negara tersebut memaksa masyarakat kembali menggunakan kayu bakar, bahkan menyebabkan banyak usaha kuliner tutup.
Ketua Umum APKLI-P, Ali Mahsun ATMO, menegaskan bahwa kondisi serupa tidak boleh terjadi di Indonesia. Ia menyebut situasi ini sebagai “very dangerously” atau sangat berbahaya bagi stabilitas sosial dan ekonomi nasional.
Menurutnya, dampak dari konflik global yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengguncang rantai pasok energi dunia, termasuk distribusi LPG di India yang kini memasuki minggu keempat sejak akhir Februari 2026.
“Jika Indonesia mengalami kekosongan LPG, dampaknya akan sangat luas. Bukan hanya dapur rumah tangga yang terdampak, tapi juga jutaan pelaku usaha kecil,” tegasnya, Selasa (24/3/2026).
UMKM Jadi Tulang Punggung yang Rentan
Ali Mahsun memaparkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 65,4 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sektor ini menyerap sekitar 137 juta tenaga kerja atau 97% dari total lapangan kerja nasional.
Selain itu, jutaan masyarakat—mulai dari ibu rumah tangga hingga sekitar 8 juta pengemudi ojek online—sangat bergantung pada LPG 3 kg dan BBM bersubsidi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Bayangkan jika pasokan terganggu. Rakyat tidak bisa memasak, usaha kecil berhenti, dan pendapatan harian terhenti. Ini bisa memicu gejolak sosial bahkan chaos,” ujarnya.
Mitigasi Dini Jadi Kunci
Ia pun mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah mitigasi, terutama dalam menjaga ketersediaan LPG 3 kg dan BBM bersubsidi agar tetap aman di tengah dinamika global.
Menurutnya, krisis di India harus dijadikan pelajaran penting agar Indonesia tidak terlambat dalam mengantisipasi dampak serupa.
Momentum untuk Bangkit dan Adaptif
Di balik peringatan tersebut, situasi ini juga bisa menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk lebih adaptif dan inovatif dalam menjalankan bisnis.
Pelaku UMKM didorong untuk:
Mulai mencari alternatif energi cadangan (seperti kompor listrik atau energi terbarukan sederhana).
Meningkatkan efisiensi produksi agar tidak bergantung penuh pada satu sumber energi.
Memperkuat strategi
usaha agar tetap bertahan dalam kondisi krisis.
Krisis global memang tidak bisa dihindari, namun kesiapan dan inovasi menjadi kunci utama agar pelaku usaha tetap bertahan dan bahkan berkembang.
“Jangan menunggu krisis datang. Justru saat seperti ini kita harus bersiap, beradaptasi, dan memperkuat usaha,” pungkas Ali Mahsun.
Red;