JAKARTA ||LNNews– Bagi D. M. Pertiwi, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI), jabatan bukanlah tentang kekuasaan atau harta. Baginya, amanah yang diembannya adalah wujud nyata dari cinta, loyalitas, dan pengabdian tulus terhadap organisasi profesi wartawan tersebut.
Dalam sebuah pernyataannya, Pertiwi menegaskan bahwa keterbatasan materi atau pengaruh politik tidak menjadi halangan bagi dirinya untuk berkontribusi maksimal. Ia percaya bahwa aset terbesar yang ia miliki untuk AWPI adalah ketulusan hati dan komitmen yang tak pernah berkurang.
“Mungkin saya tidak memiliki harta yang berlimpah untuk diberikan kepada organisasi ini. Mungkin saya juga tidak memiliki kekuasaan yang besar. Namun, saya memiliki satu hal yang tidak akan pernah berkurang, yaitu rasa cinta, loyalitas, dan pengabdian kepada AWPI,” ujar Pertiwi.
Bagi Pertiwi, AWPI lebih dari sekadar entitas organisasi formal. Ia memandang AWPI sebagai "rumah perjuangan," tempat berkumpulnya insan-insan jurnalis yang berbagi semangat, cita-cita, dan tujuan mulia untuk membangun dunia jurnalistik yang profesional dan bermartabat.
Komitmen ini diterjemahkan melalui kontribusi nyata berupa waktu, tenaga, dan pikiran. Pertiwi menekankan bahwa motivasinya bukan berasal dari keinginan untuk dipuji atau dihormati, melainkan keyakinan bahwa organisasi yang besar lahir dari orang-orang yang mencintainya dengan sepenuh hati.
“Saya akan memberikan seluruh kemampuan yang saya miliki untuk ikut membesarkan organisasi tercinta ini. Bukan karena jabatan, bukan karena pujian, dan bukan pula karena ingin dihormati. Tetapi karena saya percaya bahwa setiap organisasi besar lahir dari orang-orang yang mencintainya dengan tulus,” tambahnya.
Pertiwi juga menyadari bahwa dinamika organisasi pasti menghadirkan perbedaan pendapat, tantangan, hingga ujian berat. Namun, ia teguh pendirian bahwa badai tersebut tidak akan menggoyahkan kesetiaannya. Justru, momen-momen sulit itulah yang menjadi bukti nyata dari kualitas loyalitas seorang anggota.
“Saya sadar bahwa dalam perjalanan organisasi pasti ada perbedaan pendapat, tantangan, dan ujian. Namun kecintaan saya kepada AWPI tidak akan berkurang hanya karena badai yang datang silih berganti. Justru dalam keadaan sulit, kesetiaan dan pengabdian diuji,” jelasnya.
Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, Pertiwi berkomitmen untuk terus berdiri garda terdepan bersama AWPI. Fokus utamanya adalah menjaga nama baik organisasi, memperjuangkan marwah pers, serta mendukung setiap langkah strategis yang membawa AWPI menuju masa depan yang lebih cerah.
Baginya, mencintai organisasi berarti hadir tidak hanya saat keadaan kondusif, tetapi juga tetap setia mendampingi ketika organisasi menghadapi berbagai tantangan.
“AWPI bukan hanya nama organisasi. AWPI adalah bagian dari perjuangan, pengabdian, dan kebanggaan yang akan selalu saya jaga,” tutup Pertiwi disertai salam hormat dan persaudaraan.
Sikap dan dedikasi yang ditunjukkan oleh Pertiwi diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh anggota AWPI lainnya untuk terus menjaga solidaritas dan integritas organisasi di tengah tantangan era digital saat ini (AWPI)
Tags:
Daerah