BOJONEGORO – Megaproyek jembatan poros Desa Tebon, Kecamatan Padangan, kini tengah menjadi buah bibir. Jembatan yang digadang-gadang menjadi urat nadi ekonomi warga ini masih menyisakan pekerjaan rumah. Meski menelan anggaran Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) 2025 sebesar Rp1.764.312.000, hingga memasuki Maret 2026, fisik bangunan belum kunjung tuntas 100 persen.
Sorotan Warga, Papan Proyek "Misterius"?
Ketidakpastian waktu penyelesaian mulai memicu riak di tengah masyarakat. Selain progres yang melambat, warga menyoroti papan informasi proyek yang dinilai kurang transparan karena tidak mencantumkan durasi waktu pelaksanaan secara rinci. Padahal, akses ini sangat dinantikan untuk memutar roda ekonomi desa.
Faktor Alam Jadi Kambing Hitam
Menanggapi polemik tersebut, Camat Padangan, Dr. Novita Sari, S.STP., M.PSDM, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa keterlambatan ini bukan tanpa alasan. Faktor alam, yakni terjangan banjir, menjadi penghambat utama para pekerja di lapangan.
"Progres saat ini sebenarnya sudah menyentuh angka 85 persen. Namun, kendala bencana banjir memang tidak bisa dihindari dan menghambat sisa pekerjaan yang ada," ungkap Dr. Novita.
Langkah Desa ke Depan
Pemerintah Desa Tebon tidak tinggal diam atas kemacetan progres ini. Berikut adalah langkah-langkah yang telah diambil.
Koordinasi Formal, Pihak desa telah melayangkan surat resmi ke dinas terkait untuk melaporkan kendala lapangan.
Optimalisasi Pengerjaan, Mengingat jembatan ini adalah proyek lanjutan, sisa 15 persen pekerjaan akan dikebut seiring membaiknya cuaca.
Target Ekonomi: Pemerintah optimis bahwa setelah rampung, jembatan ini akan menghapus isolasi akses dan mempercepat mobilitas warga.
Analisis Singkat, Meskipun dihantam kendala alam, komitmen Pemerintah Kecamatan Padangan untuk mengawal proyek ini tetap tinggi. Kini, warga tinggal menanti janji manis penyelesaian jembatan beton tersebut agar anggaran miliaran rupiah itu segera berbuah manfaat nyata bagi kantong ekonomi rakyat.
Editor: RED LNN