Bojonegoro – Proses penyusunan rencana pembangunan daerah mulai memasuki tahap krusial.
Melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dihadapkan pada tantangan klasik: banyaknya kebutuhan masyarakat yang harus disesuaikan dengan keterbatasan anggaran daerah.
Forum yang digelar di Gedung Angling Dharma ini menjadi titik awal penyaringan ribuan usulan dari berbagai pihak sebelum ditetapkan menjadi program prioritas.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan bahwa arah pembangunan ke depan akan difokuskan pada sektor pertanian, kesehatan, pengelolaan air, serta keberlanjutan lingkungan. Namun ia juga mengingatkan bahwa tidak semua usulan dapat direalisasikan.
“Efisiensi anggaran dan peningkatan pendapatan daerah harus berjalan beriringan agar pembangunan tetap berjalan optimal,” ujarnya.
Data dari Bappeda mencatat, total ada 3.068 usulan yang masuk dalam proses perencanaan tahun ini.
Rinciannya, 1.734 usulan berasal dari pokok pikiran DPRD, 1.293 dari desa dan kelurahan, serta sisanya dari instansi vertikal dan usulan ke pemerintah provinsi.
Banyaknya usulan tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan pembangunan di masyarakat,
sekaligus menggambarkan adanya kesenjangan antara harapan publik dengan kemampuan keuangan daerah.
Ketua DPRD Abdulloh Umar menyebut Musrenbang sebagai ruang strategis untuk menyatukan berbagai kepentingan.
Di forum ini, pemerintah dan masyarakat melakukan negosiasi guna menentukan program yang benar-benar prioritas.
Sementara itu, Sekda Edi Susanto menjelaskan bahwa arah pembangunan ke depan juga akan menitikberatkan pada pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi hijau, serta tata kelola pemerintahan yang lebih baik.
Tema pembangunan tahun 2027 sendiri diarahkan pada penguatan ekonomi bernilai tambah, pembangunan SDM berkarakter, dan tata kelola daerah yang inklusif.
Pada akhirnya, Musrenbang bukan sekadar forum formalitas, melainkan menjadi “arena pertarungan” dalam menentukan arah pembangunan Bojonegoro ke depan—antara kebutuhan yang terus bertambah dan kemampuan anggaran yang terbatas.
Kalau mau, saya bisa buatkan versi yang lebih tajam (investigatif/kritis) atau versi yang lebih santai untuk pembaca umum.
(Red.)